Minggu, 17 Agustus 2014

Upacara Bersama Kakek





Di hamparan langit yang biru. Seekor burung alap-alap terbang tinggi menggapai seluruh isi langit. Begitu bebas mengisi ruang sang Agung.

Sejauh mata memandang rimbun padi membentang berhetar-hektar, yang semakin jauh terlihat serpeti lautan yang berwarna hijau. Sepoi angin berhembus menerpa tubuh seorang bocah berusia sebelas tahun. Ia sedang berdiri dan merentangkan kedua tangannya berlainnan arah. Rambutnya begerak melambai mengikuti arah angin. Begitu sejuk, begitu nyaman.

"Kek, Adi pengen ikut upacara hari kemerdekaan besok, Kek" Adi membuka mata yang dari tadi terpejam, menatap ke langit dengan penuh harap.
"Sudahlah, Di. Kamu itu kan sudah tidak bersekolah lagi, jadi mana mungkin kamu bisa upacara 17an?" Jawab seorang lelaki paruh baya yang sedang mencangkul.

Adi berpikir sejenak, kemudian mata indahnya kembali ia pejamkan.
"Seandainya upacara hari kemerdekaan bisa dilaksanakan seindonesia ya, Kek?"

Lelaki paruh baya itu berhenti mencangkul. Ia bangkit sembari menarik dalam nafasnya.
"Tidak akan mungkin! Upacara 17an hanya bisa dilakukan oleh mereka yang bernasib baik. Begitu juga kemerdekaan, merdeka hanya bisa dinikmati oleh mereka yang berbaju bersih dan berpangkat tinggi" sejenak lelaki paruh baya itu menerawang jauh lalu kembali meneruskan mencangkul.
"Tapi Adi sudah merdeka bisa berdiri di tanah ini, Kek" Adi berlari memeluk tubuh paruhbaya itu dari belakang.
***

Esok hari, di hamparan padi yang luas. Berkibar Sang saka merah-putih. Di situ terlihat seorang bocah berumur sebelas tahun dalam posisi hormat bersama lelaki paruh baya yang mengenakan seragam juangnya.

Dirgahayu Indonesia ke-69

0 komentar: