Selasa, 19 Agustus 2014

Rp. 45.000 (Cerpen)


Karya: Reza Rozali

Bengawan solo ...
Riwayatmu ini ...

Alunan musik berirama keroncong menggema diantara kesunyian dan ketenangan. Nada-nada yang dilantunkan oleh sinden sangat merdu. Suara indahnya bagai jemari yang meraba kulit pipi. Begitu lembut, keluar melalui lubang-lubang kecil dari benda yang berbentuk persegi dan terdapat sebuah antena panjang di sisi sebelah kiri. Diiringi aluan musik yang klasik. Tampak menarik dengan lirik yang penuh dengan kata-kata apik. Membuat suasana ruang sunyi dan damai.

Sedari dulu jadi ...
Perhatian insani ...

Di ruangan sederhana berukuran tidak terlalu besar dan jauh dari kesan mewah. Hanya terdapat sebuah kasur dan meja di sebelahnya. Juga sebuah almari yang tegak berdiri di pojokan. Layaknya prajurit gagah sedang mengawasi budak-budak dalam cerita kerajaan. Seorang anak kecil tertelukup dalam selimut lebar yang merengkuh tubuhnya. Tertidur pulas di atas kasur yang tidak empuk. Terdapat tabalan serta jahitan di bagian kiri kasurnya. Terlihat sangat besar di bawah tubuhnya yang mungil. Raut wajahnya damai tampak asik menyelami mimpi-mimpi. Berpetualang menaklukkan berbagai rintangan. Atau hanya menikmati sebuah ketenangan.

Musim kemarau ...
Tak seberapa airmu ...
Di musim hujan air ...
Meluap sampai jauh ...

Suara radio masih asik berdendang. Seperti sedang meninabobokan seorang anak, meski anak kecil itu sudah lama terpejam. Dia suka mendengarkan lagu-lagu keroncong sebelum tidur. Menggantikan cerita dongeng yang sering diceritakan oleh ibunya dulu. Nyanyian-nyanyian klasik itu seperti kata kata ajaib baginya. Bisa dengan tiba-tiba memberatkan kelopak matanya. Mampu membuat ia melebarkan rahangnya lalu menarik molekul udara dalam-dalam kemudian melepaskanya. Pun tiba-tiba kantung matanya penuh dengan bulir kesederhanaan. Dan membuatnya terpejam.

Kini bumi mulai terang. Matahari sudah rapi, bersiap menyambut kami. Suara radio masih terdengar. Bukan musik keroncong lagi. Berganti lagu-lagu dangdut masa kini. Namun ruangan ini masih sunyi.

“Bayu!!!”
Teriak seseorang di luar sana. Terdengar sangat keras. Terdengar seperti auman.
“Bayu!!!”
Auman tadi terdengar kembali. Mengusik burung-burung yang sedang asik berkumpul melantunkan nada-nada indah pagi ini.
“Bayu!!!”
Suara auman itu lagi-lagi terdengar lebih keras. Kini disertai suara daun pintu membentur dinding-dinding beku. Menambah suasana gaduh diantara riuhnya musik dangdut “Oplosan” dari lubang-lubang kecil radio lusuh.

Setiap pagi sering terdengar auman semacam ini. Auman, gonggongan bahkan rintihan pun ada. Entah bagaimana bisa auman-auman itu bisa selalu terdengar dengan keras tiap harinya. Apa mungkin sang pemilik auman itu sering meminum jahe hangat. Atau air dari perasan kencur.

“Bangun Kupret!!!”
Bentaknya sambil menarik lengan anak kecil yang sedang asik mengarungi mimpi. Seketika anak yang sedari dipanggil Bayu terbelalak. Terduduk mematung di atas kasurnya yang lebar. Ia mengerjapkan mata berkali-kali. Menghitung satu persatu cahaya yang masuk ke celah indra pengelihatannya.

“Udah jam tujuh, kamu ndak boleh ketinggalan!”
Kini suara gonggongan yang terlontar.
Iki jamnya bos-bos berangkat kerja!”
“Cepat macak seperti biasa!”
Gonggongan yang satu ini sangat dihafal Bayu. Entah mengapa bayu seakan tersihir dengan gonggongan tersebut. Meskipun sang pemilik gonggongan itu bukan penyihir yang berjubah dan berambut panjang.
“Baik, Bu” jawab Bayu lirih.
“Bagus! Cari duit yang banyak buat makan kita dan buat beli obat-obatan ibu kamu. ngerti?” cerocos sang peilik auman.

Bayu hanya mengangguk. Lalu pemilik auman yang di panggil oleh Bayu sebutan bu tadi kemudian berlalu. Meninggalkan lagu-lagu dangdut yang nampak merdu.
Bayu perlahan turun dari kasur buluk yang ia tiduri. Menjulurkan kaki ke tepian ranjang. Duduk diam menatap keluar jendela. Menerawang ke belakang takdirnya. Dulu pagi-pagi Bayu sudah rapi dengan seragam putih merahnya. Siap dengan tas punggung dan beberapa buku pelajaran yang ia rapikan malamnya. Lalu siap dengan sepatuh hitam yang membungkus kedua kakinya. Dengan simpul kupu-kupu menghiasi sepatu hitamnya. Lalu menatap kaca lemari dan menyisir rambut ikalnya ke kanan. Tapi kini ia hanya mampu membayangkan rutinitasnya sebagai seorang murid yang tekun mengenyam pendidikan di salah satu sekolah dasar dalam ingatannya.

Bayu beranjak dari lamunan dan sedikit menghela nafas. Perlahan ia melangkah berjalan mendekati benda berukuran lebih besar dari tubuh mungilnya. Ia menatap sosok dirinya di pantulan cermin yang menempel di pintu lemari. Dan merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Bayu membuka lemari yang sedari tadi berdiri tegak di hadapan. Terdapat banyak lipatan-lipatan pakaian di dalam. Pandangan Bayu menyusuri tumpukan baju-baju yang ada di lemari. Seperti ada sesuatu yang ia cari.

Pandangan Bayu tak henti-hentinya menyusuri tumpukan pakaian. Mengacak-acak tumpukan pakaian yang sudah dilipat dan disetrika rapi. Sesekali Bayu mengangkat beberapa pakaian. Entah apa yang ia cari-cari di tumpukan baju-baju bersihnya. Pandangan Bayu terhenti pada salah satu baju yang sangat ia kenang. Baju yang dirindukannya untuk ia kenakan. Terlipat dengan rapi dan edikit berbau apek karna sudah lama tidak terpakai.

Bayu mengangkat baju berwarna putih tersebut dihadapannya. Dihirupnya bau apek dari pakain itu. Pakaian yang terdapat bordiran bertuliskan SD Negeri Kesaktiaan di lengan sebelah kanannya.
“Masih harum.” Batinnya.

Terbentuk simpul pada bibir Bayu. Hingga mengangkat sedikit pipi gempalnya. Ia lepas kancing demi kancing baju itu lalu membalutkan ke tubuhnya. Bayu seperti kerasukan ingatan-ingatan masalalu. Saat ia masih menjadi seorang murid sekolah dasar. Ketika diminta bu Wijang, wali kelasnya menjadi Pemimpin upacara. Berdiri dengan gagahnya di depan tiang bendera negeri ini. Di hadapan Kepala Sekolah, Bapak-Ibu guru. Dan di hadapan murid-murid yang lain. Semakin terangkat lagi pipi gempalnya.
Memamerkan gigi yang berderet di cermin almarinya. Membetulkan seragam dan beberapa kancing baju yang belum ia kancingkan. Bayu ingin sekali bisa kembali bersekolah seperti dulu. Kembali diantar oleh ayahnya dengan motor matic. Mencium punggung tangan guru-gurunya sebelum masuk kelas. Kembali menatap papan tulis dengan lekat. Dan memanjat pohon jambu bersama teman-temannya yang berada di belakang kantin pak Djarwo.

Sekarang Bayu sudah siap dengan seragamnya. Bukan seragam putih-merahnya tetapi seragamnya yang lain. Seragam yang biasa ia kenakan mengarungi jalanan kota. Sepotong kaos oblong yang sedikit longgar dan celana pincang agak dekil karna tak pernah ia cuci. Dan memang tak boleh dicuci ibunya penyihir berjubah hitam dengan auman.

Diam kembali menghinggapi pikiran Bayu. Merasa ada suara yang menahannya. Sebuah bisikan yang tidak bisa didengar oleh telinga. Hanya bisa didengar oleh perasaan. Hati Bayu berbisik lirih, memaksanya untuk tetap di kamar ini. Mengabaikan perintah ibunya yang satu ini. Melupakan beberapa peser dari saku bos-bos besar. Tidak lagi tersengat terik matahari yang membuat rambut ikalnya memerahdan berhenti memakai seragam dekilnya ini. Akan tetapi pikiran Bayu berlawanan dengan hatinya. Bayu tak mau jadi anak yang durhaka. Ia harus tetap menuruti perintah ibunya. Sang pemilik auman dan gonggongan yang melenguh tiap pagi. Mengais rupiah demi rupiah dari pekerja kantoran dan bos-bos besar. Memetik senar-senar gitarnya jalan demi jalan. Dari mobil satu ke mobil yang lain. Dari orang ke orang yang lainnya. Demi uang Rp. 45.000,-(empat puluh lima ribu). Demi ibu, demi sepotong kue bertuliskan “ Happy Birthday Mom ” dengan hiasan lilin berangka 53.

Bayu melirik ke kalender di belakang pintu kamarnya. Menatap pada angka 22 yang telah ia lingkari menggunakan plpen merah. Benar, di tahun 2013 pada bulan keempat sang ibunda berulang tahun. Bayu menyelami kembali ingatan. Sudah lama sekali ia tidak merayakan ulang tahunnya. Terakhir kali, tujuh tahun yang lalu. Bayu bergegas mengambil gitar. Menatap kembali cermin yang menempel di pintu lemari. Menyisir rambutnya ke kiri. Dan meninggalkan kamar sempitnya. Meninggalkan kasur buluk dan melupakan musik dangdut yang keluar dari lubang-lubang radio miliknya.

Di ruang tengah Bayu melihat sang pemilik auman sedang asik membaca koran. Membolak-balik halaman demi halaman. Lupa dengan aumanya, lupa akan kegarangannya. Entah apa yang sedang ia cari pikir Bayu. Saat berlalu ke ruang tamu Bayu melihat ibunya sedang terduduk di kursi rodanya menatap jauh keluar jendela. Menyusun ingatan-ingatan melalui kaca jendela. Tercetak ketidakpastian di raut mukanya. Dan seperti tersimpan luka dalam tiap kerutan yang mulai tampak di dahinya. Kegelisahan itu yang menjadi semangat Bayu. Menguatkan tekadnya untuk rela menjalankan perintah ibunya, sang pemilik auman. Rela menjadi pengamen jalan raya. Untuk uang enam ribu rupiah. Dan menggenapkan uang tabungannya saat ini masih tiga puluh sembilan ribu rupiah. Uang yang ia sisihkan dua ribu rupiah dari hasil ngamennya setiap hari. Menjadi seharga kue ulang tahun yaitu Rp. 45.000,- (empat puluh lima ribu).

“Bengawan solo ...”
“Riwayatmu ini ...”

Kembali tedengar lantunan lagu keroncong. Bukan dari radio lusuh Bayu tetapi kini dari bibirnya. Dengan iringan musik keroncong yang klasik. Bukan keluar dari lubang-lubang radio tetapi dari petikan gitarnya yang antik. Bayu menyanyi kan lagu keroncong dengan tulus. Menirukan cengkok-cengkok para sinden yang dia dengar lewat radio lusuhnya tiap malam.

“Sedari dulu jadi ...”
“Perhatian insani ...”

Bayu terus memetik gitar dan melantunkan suaranya. Setia dengan gitar yang menemaninya di sepanjang jalan. Ngamen ke orang-orang yang beristirahat di warung. Ngamen di kompleks perumahan. Menghampiri mobil tiap mobil yang berhenti di lampu merah. Tanpa lelah Bayu memetik gitar dan melantunkan lagu-lagu keroncong. Tak peduli dengan terik sinar matahari. Tak peduli dengan polusi kendaraan lagi. Bulir-bulir keringat membasahi dahi dan kaos oblonganya.

“Musim kemarau ...”
“Tak seberapa airmu ...”
“Di musim hujan air ...”
“Meluap sampai jauh ...”

“Udah sore, semoga hasil ngamen hari ini lumayan”
Bayu mengeluarkan uang dari hasil ngamenya seharian dari dalam saku celana dekilnya. Kemudian menghitung lembar demi lembar uang ribuan, beberapa puluhan serta recehan.
“Alhamdulillah, hari ini dapet dua ratus tujuh puluh tiga ribu.”
Pipi gembal Bayu kembali terangkat. Bayu tampak bersyukur dengan hasil yang ia dapatkan hari ini. Kemudian Bayu mengambil 3 lembar uang dua ribuan dari hasil ngamennya. Lalu menyisihkan ke uang tabunganya yang dibukus katong plastik. Dan sekarang genap menjadi empat puluh lima ribu. Pas dengan harga kue ulang tahun yang akan ia belikan untuk ibunya.

“Saatnya pergi ke toko kue” batinnya.
Bayu berjalan ke toko kue dengan sangat antusias. Ia tidak sabar lagi ingin merayakan ulang tahun ibunya yang ke 53 di rumah. Ibu yang sering mendongengkan cerita ketika ia berumur 5 tahun. Ibu yang selalu ada sebelum ia tidur. Ibu yang duduk di kursi roda dan menatap keluar jendela.

Setibanya di toko kue, Bayu memandang dari atas sampai bawah toko kue yang terdapat gambar kue-kue yang tampak sangat lezat. Ada sedikit rasa kangen dalam hati Bayu. Kangen ketika ayah dan ibunya mengajak ia kemari merayakan ulang tahunnya yang ke 5 tahun. Kangen dengan pintu yang bisa berputar. Kangen juga dengan pelayan-pelayang yang memakai pakaian serba putih.
“Dik.. dik.. jangan ngamen di sini!” cegah satpam yang ada di depan toko kue tersebut.
“Maaf Pak, saya ndak mau ngamen di sini. Saya...”
“Sudah pergi sana. Ga usah banyak alasan, nanti para pelanggan jadi terganggu!!!” Usir si satpam depan toko kue tersebut.
“Tapi saya mau beli kue buat ibu Pak, ibu saya hari ini ulang tahun.”
“Halah, anak jalanan kayak kamu mana punya uang!”
Satpam toko kue tersebut menarik lengan bayu. Sama seperti ibu Bayu yang menarik lengannya tadi pagi. Kemudian si satpam menyeret Bayu sampai trotoar dan mendorong Bayu ketanah. Bayu tersungkur di kerasnya batu-batu trotoar. Ia sedikit menahan rasa sakit dan menahan air yang mulai mengalir dari celah indra pengelihatannya.
“Udah sana pergi, ga usah nangis!” pak satpam meninpali.
“Ada apa ini Jok?” suara seorang laki-laki bertanya pada satpam toko kue tadi.
“Eh Bapak, ini ada anak jalanan yang ganggu para pelanggan di sini Pak” jelas satpam toko kue tadi.
“Mau ngapain dia?”
“Katanya sih mau beli kue di sini Pak, tapi masak ia punya uang buat beli kue!” jelas satpam tadi dengan bibir yang agak sedikit dimoncongkan.
Bayu agak melirik pada laki-laki yang bertanya pada satpam toko kue ini. Seorang laki-laki itu pasti bos dari satpam itu. Pemilik toko kue dengan gambar kue-kue yang tampak sangat lezat di depan tokonya.
“Benar kamu mau beli kue di sini?” laki-laki yang ditebak Bayu sebagai pemilik toko kue ini bertanya padanya.
Bayu mengangguk, kemudian berdiri dan mengeluarkan kantong plastik yang ada di saku kirinya. Kantong plastik yang berisi uang tabungannya. Uang yang ia sisihkan dua ribu rupiah dari hasil ngamennya tiap hari. Yang sekarang sudah genap berjumlah Rp. 45.000,- (empat puluh lima ribu). Lalu Bayu menyerahkan kantong plastik itu pada laki-laki tersebut.
“Ibu saya hari ini ulang tahun, saya mau beliin ibu kue ulang tahun” rengek Bayu.
Laki-laki itu merasa tersentuh hatinya. Merasa iba dengan anak kecil dihadapannya.
“Ya Sudah, kamu boleh pilih kue yang kamu suka buat ibu kamu”
“Uang ini kamu simpan saja” tambah laki-laki yang ternyata berhati mulia itu.
Ndak Pak, saya mau beli kue, bukan meminta.” Terang Bayu.
Laki-laki itu mengerti perasaan Bayu. Mengerti dengan kepolosan anak kecil dihadapannya. Yang ingin sekali membelikan kue ulang tahun untuk ibunya.
“Ibu Bayu pulang!!!”

Bayu keluar dari mobil. Ia sangat senang di antar oleh pak Hari dengan mobilnya yang ber-AC. Ia sudah tidak sabar merayakan hari ulang tahun ibunya yang ke 53 tahun. Pak Hari turut senang dengan keceriaan yang tersirat dari rau muka Bayu. Tetapi penyihir dengan jubah hitam dan sang pemilik auman ini muncul.
“Pulang dengan siapa kamu?” tanya si penyihir, ibu Bayu.
“Saya Hari, pemilik toko kue” pak hari menjulurkan tangannya.
“Saya Lina, ibu tiri Bayu, ada perlu apa kesini?” tanyanya ketus.
“Saya cuma mengantar anak  Ibu, tadi dia habis beli kue ditoko saya” jelas pak Hari.
“Oh, jadi kamu pake hasil ngamen kamu buat beli kue ulang tahun?” penyihir itu menarik telinga Bayu.
“Bukan Bu, Bayu beli pake uang tabungan Bayu” sangkal Bayu.
“Bohong!!!” ibu tiri bayu mencoba menampar Bayu tetapi di tahan oleh pak Hari.
“Cukup Bu, Bayu ini sudah capek-capek ngamen untuk beliikan Ibu kue ulang tahun” pak Hari geram.
“Maaf ya Mas, itu kue bukan untuk saya tapi buat ibunya dia yang sudah peot dan sakit sakitan di dalam” jelas ibu tiri bayu.
“Ini Buk uang hasil ngamen hari ini” Bayu meyerahkan uang hasil ngamenya di saku kirinya.
Ibu tiri Bayu mengambil dengan sangat cepat dan kemudian menghitung uang tersebut.
“emmm.. lumayan. Ya sudah aku mau nyetrika dulu. Awas kalo kamu berani pake uang hasil ngamen lagi!”
Ibu tiri bayu menghilang di balik pintu. Pah Hari heran dengan kejadian di rumah ini. Apa yang terjadi dengan keluarga bayu.
“Mari masuk Pak?” Bayu mempersilahkan.
“Eh, iya..” pak Hari tersadar dalam lamunannya.
Bayu kembali sangat bersemangat dan ingin segera menemui ibunya dan merayakan hari ulang tahunnya bersama pak hari. Bayu cepat sekali hilang di balik pintu.
“Selamat ulang tahun Ibu!!!” teriak bayu.
Pak Hari memasuki ruang tamu dan melihat seorang wanita agak sedikit tua. Tampak pada rambutnya yang mulai memuti dan raut wajah yang mulai kendur. Tak terasa pak Hari menitihkan air matanya.

-
“Aku melihat kebahagiaan kecil dari perjuangan seorang anak yang rela bergelut dengan kerasnya hidup demi membahagian ibu yang sangat ia cintai di hari ulang tahunnya. Meski seseorang yang berada di hadapannya. Seorang ibu yang depresi di tinggal sang suami. Akan tetapi cinta Bayu tidak pudar atas semua itu pun pada ibu tirinya. Ia memberiku arti, betapa mulianya seorang ibu di matanya.”
“Muliakanlah seorang ibu, meski dia tidak lagi bisa menatap dan merengkuhmu”
Pak hari mengusap air matanya.
TAMAT

Ini adalah cerpen pertama saya. Cerpen pertama pula yang saya ikutkan lomba. Tapi sayang, tidak mendapatkan juara. Pantes sih kalo gak menang, soalnya waktu ngedit sebelum cerpen ini saya posting banyak banget kesalahan penulisan di sana - sini (maklum). Tapi sudah saya keluarkan segenap kemampuan editor saya, da hasilnya seperti yang sudah kalian baca. Beri komentar kalian ya gaes..

Senin, 18 Agustus 2014

Puisi Untuk Bunga


Senyum kecil menghiasi wajah lugunya
Riang ceria dia pasangkan dengan sempurna
Sayapnya pandai menebarkan warna
Dia juga pandai memamerkan gesturnya yang belia
Bunga...

Cepatlah tumbuh dengan sempurna
Meski ku tahu sempurnamu berbeda
Cepatlah menjadi bidadari untuk keluarga kecil kita
Bunga, kasihku selamanya

First post on 06 August 2014 @ coretanmeja.wordpress.com
Happy birthday my little sister. GBU 🎂📦🎉🎊🎈😍😸

(Hastag)Selfie


Sejak kata "selfie" diresmikan dalam kamus besar bahasa inggris, makin marak foto-foto diri bersliweran di dunia maya, terlebih sosial media.
Awalnya, kata “selfie” tumbuh dari sebuah forum online di Australia pada tahun 2002, kemudian pada 2013 dikukuhkan sebagai kata baku.
Dalam kamus Oxford, selfie berarti foto yang diambil oleh diri sendiri dengan menggunakan ponsel dan webcam, kemudian diunggah ke
media sosial.

Kegiatan memotret diri sendiri ini memang lebih di gemari para khalayak ramai yang suka narsis (kayak gue). Di dukung dengan kecanggihan teknologi membuat aktifitas selfie ini semakin menyenangkan, terlabih sekarang lagi trend-trendnya #Selfie , semua orang seakan belomba-lomba memfoto diri. Bangun tidur selfie. Habis mandi selfie. Lagi makan selfie. Sedang ada event selfie. Pokoknya tiap gerak selfie deh.

Dulu sebelum ada kata "selfie" di Indonesia juga banyak orang orang yang suka motret diri sendiri, cuman belum ketemu istilahnya aja (mean: selfie). Dulu tuh yang ada pose-pose alay, inget gak? (jaman-jamannya facebook). Foto diri sendiri dari samping. Foto sambil manyun. Foto sambil gigit-gigit bibir. Foto sambil tempelin telunjuk ke bibir. Hayo siapa yang pernah foto begituan, ngaku?

Tapi ada dampak yang buruk loh gaes mengenai selfie ini. Contohnya Oscar Otero, seorang pria dari Meksiko meregang nyawa setelah ber-selfie dengan menondongkan pistol dan menembakkan ke kepalanya sendiri. Menurut ahli psikologi tidakkan Oscar adalah bentuk hasrat keinginan selfie yang ekstrim. Dengan maraknya selfie dapat mengakibatkan kenginginan (hasrat) selfie yang lebih dan berbeda, termasuk yang oscar lakukan.

Ngeri banget kan gaes..
Doyan selfie sih ga masalah gaes asal jangan berlebihan dan harus dengan akal kesadaran kita ya.
Yuk selfie. #pose

Me
#Selfie #Blendpic
View on Path

Minggu, 17 Agustus 2014

Upacara Bersama Kakek





Di hamparan langit yang biru. Seekor burung alap-alap terbang tinggi menggapai seluruh isi langit. Begitu bebas mengisi ruang sang Agung.

Sejauh mata memandang rimbun padi membentang berhetar-hektar, yang semakin jauh terlihat serpeti lautan yang berwarna hijau. Sepoi angin berhembus menerpa tubuh seorang bocah berusia sebelas tahun. Ia sedang berdiri dan merentangkan kedua tangannya berlainnan arah. Rambutnya begerak melambai mengikuti arah angin. Begitu sejuk, begitu nyaman.

"Kek, Adi pengen ikut upacara hari kemerdekaan besok, Kek" Adi membuka mata yang dari tadi terpejam, menatap ke langit dengan penuh harap.
"Sudahlah, Di. Kamu itu kan sudah tidak bersekolah lagi, jadi mana mungkin kamu bisa upacara 17an?" Jawab seorang lelaki paruh baya yang sedang mencangkul.

Adi berpikir sejenak, kemudian mata indahnya kembali ia pejamkan.
"Seandainya upacara hari kemerdekaan bisa dilaksanakan seindonesia ya, Kek?"

Lelaki paruh baya itu berhenti mencangkul. Ia bangkit sembari menarik dalam nafasnya.
"Tidak akan mungkin! Upacara 17an hanya bisa dilakukan oleh mereka yang bernasib baik. Begitu juga kemerdekaan, merdeka hanya bisa dinikmati oleh mereka yang berbaju bersih dan berpangkat tinggi" sejenak lelaki paruh baya itu menerawang jauh lalu kembali meneruskan mencangkul.
"Tapi Adi sudah merdeka bisa berdiri di tanah ini, Kek" Adi berlari memeluk tubuh paruhbaya itu dari belakang.
***

Esok hari, di hamparan padi yang luas. Berkibar Sang saka merah-putih. Di situ terlihat seorang bocah berumur sebelas tahun dalam posisi hormat bersama lelaki paruh baya yang mengenakan seragam juangnya.

Dirgahayu Indonesia ke-69

Senin, 08 Juli 2013

Puisi-Puisiku Menghiasi Bulan Suciku

malam ini puisi-puisiku bersinar terang,
setiap cahayanya menyiratkan kegembiraan.
ku pandang indah di langit lapang,
meski sang rembulan tidak datang.

maha Agung yang menghidupkan puisi-puisiku,
ditataNya indah menggelantung,
kemerlip terang senada dengan jantungku,
menebarkan senyum termanisnya.

bagiku ini persembahan terindah.

"puisi puisiku menghiasi bulan suciku"


7/8/2013
@coretanmeja

Senin, 01 Juli 2013

Biografi WS Rendra

 

 Rendra (Willibrordus Surendra Broto Rendra); lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935 – meninggal di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009 pada umur 73 tahun) adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak". Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967. Ketika kelompok teaternya kocar-kacir karena tekanan politik, kemudian ia mendirikan Bengkel Teater Rendra di Depok, pada bulan Oktober 1985. Semenjak masa kuliah ia sudah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah.

 

Masa kecil

Rendra adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya adalah penari serimpi di keraton majapahit. Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya. Setelah menikah, ia pindah agama menjadi Islam

 

Pendidikan

  • TK Marsudirini, Yayasan Kanisius.
  • SD s/d SMU Katolik, SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Solo - Tamat pada tahun 1955.
  • Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta - Tamat.
  • mendapat beasiswa American Academy of Dramatical Art (1964 - 1967).

 

Rendra sebagai sastrawan

Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat.
Ia pertama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun 60-an dan tahun 70-an.
"Kaki Palsu" adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan “Orang-Orang di Tikungan Jalan” adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya. Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.
Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India.
Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995).

 

Bengkel Teater dan Bengkel Teater Rendra

Pada tahun 1967, sepulang dari Amerika Serikat, ia mendirikan Bengkel Teater yang sangat terkenal di Indonesia dan memberi suasana baru dalam kehidupan teater di tanah air. Namun sejak 1977 ia mendapat kesulitan untuk tampil di muka publik baik untuk mempertunjukkan karya dramanya maupun membacakan puisinya. Kelompok teaternyapun tak pelak sukar bertahan. Untuk menanggulangi ekonominya Rendra hijrah ke Jakarta, lalu pindah ke Depok. Pada 1985, Rendra mendirikan Bengkel Teater Rendra yang masih berdiri sampai sekarang dan menjadi basis bagi kegiatan keseniannya.
Bengkel teater ini berdiri di atas lahan sekitar 3 hektar yang terdiri dari bangunan tempat tinggal Rendra dan keluarga, serta bangunan sanggar untuk latihan drama dan tari.
Rendra di Halam Bengkel Teater.JPG
Di lahan tersebut tumbuh berbagai jenis tanaman yang dirawat secara asri, sebagian besar berupa tanaman keras dan pohon buah yang sudah ada sejak lahan tersebut dibeli, juga ditanami baru oleh Rendra sendiri serta pemberian teman-temannya. Puluhan jenis pohon antara lain, jati, mahoni, ebony, bambu, turi, mangga, rambutan, jengkol, tanjung, singkong dan lain-lain.

   

Penelitian tentang karya Rendra

Profesor Harry Aveling, seorang pakar sastra dari Australia yang besar perhatiannya terhadap kesusastraan Indonesia, telah membicarakan dan menerjemahkan beberapa bagian puisi Rendra dalam tulisannya yang berjudul “A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920 to 1974”. Karya Rendra juga dibicarakan oleh seorang pakar sastra dari Jerman bernama Profesor Rainer Carle dalam bentuk disertasi yang berjudul Rendras Gedichtsammlungen (1957—1972): Ein Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag von Dietrich Reimer in Berlin: Hamburg 1977.

 

Penghargaan

  • Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan , Yogyakarta (1954)
  • Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956)
  • Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970)
  • Hadiah Akademi Jakarta (1975)
  • Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976)
  • Penghargaan Adam Malik (1989)
  • The S.E.A. Write Award (1996)
  • Penghargaan Achmad Bakri (2006).

 

Kontroversi pernikahan, masuk Islam dan julukan Burung Merak

Baru pada usia 24 tahun, ia menemukan cinta pertama pada diri Sunarti Suwandi. Dari wanita yang dinikahinya pada 31 Maret 1959 itu, Rendra mendapat lima anak: Theodorus Setya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Clara Sinta. Romantisme percintaan mereka memberi inspirasi Rendra sehingga lahir beberapa puisi yang kemudian diterbitkan dalam satu buku "Empat Kumpulan Sajak".
Di kemudian hari pada tahun 1971 datanglah Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat ditemani oleh kakaknya RA Laksmi Prabuningrat, keduanya adalah putri darah biru Keraton Yogyakarta mengutarakan keinginannya untuk menjadi murid Rendra dan bergabung dengan Bengkel Teater. Tak lama kemudian Rendra melamar Sito untuk menjadi istri kedua, dan Sito menerimanya. Peristiwa itu, tak pelak lagi, mengundang berbagai komentar sinis seperti mengenai masuknya Rendra menjadi Islam hanya untuk poligami. Tapi alasan yang lebih prinsipil bagi Rendra, karena Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini: kemerdekaan individual sepenuhnya. Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai, katanya sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang. Dari Sitoresmi, ia mendapatkan empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati
Sang Burung Merak kembali mengibaskan keindahan sayapnya dengan mempersunting Ken Zuraida, istri ketiga yang memberinya dua anak: Isaias Sadewa dan Mikriam Supraba. Tapi pernikahan itu harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra diceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti pada tahun 1981.
Sejak tahun 1977 ketika ia sedang menyelesaikan film garapan Sjumanjaya, "Yang Muda Yang Bercinta" ia dicekal pemerintah Orde Baru. Semua penampilan di muka publik dilarang. Ia menerbitkan buku drama untuk remaja berjudul "Seni Drama Untuk Remaja" dengan nama Wahyu Sulaiman. Tetapi di dalam berkarya ia menyederhanakan namanya menjadi Rendra saja sejak 1975.

 

Beberapa karya

Drama

  • Orang-orang di Tikungan Jalan (1954)
  • Bib Bob Rambate Rate Rata (Teater Mini Kata) - 1967
  • SEKDA (1977)
  • Selamatan Anak Cucu Sulaiman (dimainkan 6 kali)
  • Mastodon dan Burung Kondor (1972)
  • Hamlet (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama)- dimainkan dua kali
  • Macbeth (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama)
  • Oedipus Sang Raja (terjemahan dari karya Sophokles, aslinya berjudul "Oedipus Rex")
  • Lysistrata (terjemahan)
  • Odipus di Kolonus (Odipus Mangkat) (terjemahan dari karya Sophokles,
  • Antigone (terjemahan dari karya Sophokles,
  • Kasidah Barzanji (dimainkan 2 kali)
  • Lingkaran Kapur Putih
  • Panembahan Reso (1986)
  • Kisah Perjuangan Suku Naga (dimainkan 2 kali)
  • Shalawat Barzanji
  • Sobrat

Kumpulan Sajak/Puisi

  • Ballada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak)
  • Blues untuk Bonnie
  • Empat Kumpulan Sajak
  • Sajak-sajak Sepatu Tua
  • Mencari Bapak
  • Perjalanan Bu Aminah
  • Nyanyian Orang Urakan
  • Pamphleten van een Dichter
  • Potret Pembangunan Dalam Puisi
  • Disebabkan Oleh Angin
  • Orang Orang Rangkasbitung
  • Rendra: Ballads and Blues Poem
  • State of Emergency

Sabtu, 29 Juni 2013

coretan sajak

Aku menaruh sajak-sajak ku di pepohonan.
Bukan karna alasan angin akan membawanya terbang.
Aku berharap menjadi embun yg sejuk.
Atau menjadi oksigen yg selalu kau hirup.

@coretanmeja